GEMPA dan tsunami yang melanda sebagian belahan Afrika dan Asia pada 26 Desember 2004 disusul gempa yang merusak Pulau Nias dan Simeulue awal pekan ini, menggelitik sejumlah ahli teknik konstruksi untuk mengembangkan desain rumah tahan gempa.
SALAH satu lembaga pendidikan yang memiliki sejumlah tenaga ahli teknik, Akademi Teknik Mesin Indonesia Solo, merancang rumah sederhana tahan gempa yang tergolong murah, dengan teknologi yang cukup mudah diaplikasi oleh penduduk di daerah rawan gempa.
Rumah tahan gempa yang diberi nama Smart Modula ini tergolong konsep revolusioner untuk konstruksi bangunan serba guna. Desain rumah ini memiliki fleksibilitas tinggi, mudah dalam membangunnya, dan cukup kokoh. Konsep knock down atau bongkar pasang yang cukup sederhana ini juga praktis.
"Ide pembuatan rumah sederhana ini sebenarnya bukan sebagai rumah tahan gempa, tetapi awalnya pesanan untuk mengganti tenda-tenda darurat saat terjadi bencana. Konsep awal yang lebih mirip kontainer tergolong gagal karena hasilnya terlalu berat. Rintisan rumah ini sudah berlangsung sejak lima tahun lalu," tutur Direktur Akademi Teknik Mesin Indonesia Solo (ATMI) BB Triatmoko SJ.
Konsep ini mengalami stagnasi proses kreatif karena masih saja terpaku pada konsep pengembangan bentuk kontainer yang baku seperti kubus. Padahal, kebutuhan saat itu lebih pada bentuk-bentuk yang lebih fleksibel dan tidak kaku, selain adanya persoalan bobot yang terlalu berat tadi.
Lebih kurang tiga bulan sebelum terjadi gempa, ide mengembangkan rumah sederhana tersebut kembali tebersit. Saat itu Triatmoko melihat deretan permukiman kumuh di Jakarta, dari atas pesawat yang ditumpanginya. Pemikirannya tertumpu pada keinginan untuk menata permukiman kumuh tersebut tampak lebih rapi, namun tetap murah.
"Rumah tidak hanya sekadar tempat berlindung, tetapi juga cerminan self identity dari pemiliknya. Rumah juga bisa menumbuhkan self confidence dan mengangkat harga diri penghuninya. Meski rumah sederhana dikembangkan untuk segmen rakyat kecil secara massal, tetap saja harus ada standar kualitas yang bisa dipertanggungjawabkan, tidak dibuat secara asal- asalan," kata Triatmoko.
Klik Baca Selengkapnya...